Breaking

Alvin Andronicus: Developer Harus Kreatif dan Inovatif


Pengembang properti PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) masih menjadi pengembang nomor satu dalam hal pengembangan apartemen di wilayah Ibukota DKI Jakarta.

Lebih 44 tahun berkiprah di bisnis properti, APLN membidik segmentasi pasar yang berbeda. Diketahui bahwa APLN merupakan pioneer pengembangan hunian vertikal alias apartemen. Lebih jauh mengenai kiprah pengembang raksasa ini, Majalah Building Indonesia mewawancarai Alvin Andronicus, Senior General Manager APLN.

1

Apabila dilihat dari segmentasi pasar, APLN menggarap segmen pasar yang mana?

Bila dilihat dari apartemen-apartemen yang dikembangkan saat ini, hampir semuanya masuk kategori menengah-bawah (lower middle class). Terakhir yang cukup besar adalah superblok Kalibata City seluas 12 ha di Jakarta Selatan dan Gading Nias Residences sekitar 8.000 unit apartemen di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Namun di Green Bay Pluit, Jakarta Utara kita juga menggarap pasar lower middle class, midlle, dan middle high class.

Beberapa proyek juga menyasar kalangan atas, seperti Pakubuwono Residences di Jakarta Selatan. Sambutan pasarnya bagus, waiting list-nya banyak. Permintaan pasar untuk apartemen high class di kawasan ini masih besar, terbukti okupansinya masih tinggi.

Sekarang harga hunian di Pakubuwono sudah di atas Rp 50 juta per meter persegi. Di kawasan Pakubuwono, kami mengembangkan 7 tower apartemen yang masuk kategori high end, dimana ketujuhnya sudahselesai dibangun, dan saat ini sedang dalam progrees pembangunan 2 tower baru, yang dipasarkan Rp 52 juta per meter persegi.

Lain wilayah, lain konsep, itulah yang diterapkan APLN dalam mengemas produk propertinya. Pasar di Pakubuwono di Jakarta Selatan berbeda dengan di Jakarta Barat. Untuk melansir produk high end di Podomoro City cukup berat, karena pasarnya berbeda.

Sebagai superblok terbesar di Indonesia saat ini dengan luas 22 ha, Podomoro City di Jakarta Barat, menyasar lower middle dan middle class yang terdiri dari 15 tower apartemen dengan total lebih 10.000 unit. Central Park Mall 6 lantai, office tower APL 46 lantai, Hotel Pullman 295 unit, shopping arcade (ruko), dan taman Tribeka 1,5 ha. Kami ingin Podomoro City menjadi Singapura kecil, yang rapi, bersih, dan teratur. Ternyata konsep ini digandrungi masyarakat.

Strategi yang diterapkan APLN dalam mengemas produk propertinya adalah menerapkan konsep yang berbeda. Sebab setiap wilayah memiliki pasar yang berbeda pula.

Akhirnya konsep ini dikembangkan pula di proyek lain, seperti Green Bay Pluit dengan luas lahan 12,5 ha yang menawarkan keunggulan view laut, dengan 8 tower apartemen dan 4 tower kondominium yg keseluruhannya sudah sold-out. Di depan apartemen ada botanical park (taman) seluas 1,8 ha yang dilengkapi kolam pancing. Konsepnya juga superblok, yang didukung ruko dan mall seluas 48.000 m². Walau mall-nya tidak terlalu besar, namun bisa memberi kenyamanan sebagai salah satu superblok di Jakarta Utara.

Beda lagi dengan Kuningan City yang berada di kawasan Satrio Jakarta Selatan, walau tak terlalu luas hanya 3,8 ha, konsep superbloknya berhasil dikembangkan dan habis terjual. Di sini ada hunian apartemen, office, dan mall.

Lebih 44 tahun berkiprah di bisnis properti, apa strategi APLN sehingga propertinya mudah diserap pasar dengan cepat?

Kiprah kami di hunian apartemen disemangati dengan motto Back to The City. Bagaimana problem kota besar seperti Jakarta dapat memberi solusi bagi warga yang tinggal di satelite city, yang pergi kerja pagi-pagi dan tiba di rumah larut malam.

Visi pendiri APLN, Trihatma Kusuma Haliman jauh ke depan, dengan solusi hunian vertikal apartemen, karena lahan di Jakarta terbatas. Visi tersebut sudah terwujud di superblok Podomoro City, Senayan City, Green Bay Pluit, Kuningan City, dan Seasons City.

Kami dituntut untuk kreatif dan inovatif karena pasar sekarang cepat berubah, maka kalau mau mengembangkan properti di tengah kota konsepnya harus superblok. Kalau superblok berhasil digarap dan berhasil ditinggali, maka orang tidak perlu memakai mobil ke tempat kerja maupun fasilitas.

Bagaimana Anda melihat tren properti di DKI Jakarta saat ini?

Pertumbuhan properti biasanya terjadi kota-kota besar, namun masalahnya lahan terbatas, sehingga sekarang pertumbuhan properti ke satelite city, misalnya bukan lagi di Jakarta Barat, tetapi di sebelah barat Jakarta, seperti Serpong dan Tangerang. Di selatan Jakarta seperti Depok dan Bogor, demikian seterusnya.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*