Breaking

Cara Rumah Bernuansa Resort Ini Integrasikan Ruang Dalam dengan Ruang Luar


Salah satu karya kami yang merupakan akumulasi dari pemikiran, penjelajahan, dan konsep arsitektur tertuang pada karya kali ini dalam suatu rumah tinggal seluas 300m2 di Ciputat yang dibangun pada lahan seluas kurang lebih 4000m2.

Lahan tersebut merupakan sebuah lahan yang sebagian besar berkontur dan relatif masih hijau oleh elemen pepohonan. Pada lahan tersebut, owner menginginkan “rumah sederhana bernuansa resort” yang tidak telalu besar dengan kebutuhan satu unit bangunan utama sebagai hunian yang terdiri dari kamar tidur utama, walk in closet & main bathroom, kamar tidur tamu, living room, dinning & pantry, study room.

02-05-Ciputat's House (RKA) -06.07.2010-

Menyadari eksisiting site dengan batas lahan tidak teratur serta potensi lahan dan lingkungan yang berkontur dan masih hijau oleh elemen pepohonan yang kebetulan digunakan juga sebagai nursery (kebun bibit) serta mempunyai view lingkungan perumahan penduduk yang masih natural, arsitek menerapkan konsep arsitektur ruang dalam yang berintegrasi dengan ruang-ruang luar yang mencakup lansekap dan lingkungan sekitar, baik yang didapatkan secara visual maupun berhubungan langsung dengan ruang-ruang luar.

Terutama penempatannya secara maksimal pada ruang-ruang yang sifatnya bersama seperti ruang duduk, ruang makan, dan ruang kerja. Dimana ruang-ruang tersebut merupakan ruang favorit yang akan banyak dipergunakan sehari-hari oleh owner.

01-01-Ciputat's House (RKA) -06.07.2010-

Dengan memanfaatkan kontur lahan, maka pada level kontur yang terendah terdapat bangunan tempat pembibitan yang memang sudah menjadi bangunan eksisting lahan tersebut. Dan di level kontur atas, dekat parkir mobil, juga terdapat gazebo sebagai area penerima yang juga merupakan bangunan eksisting.

Living Room 01

Arsitek menerapkan konsep arsitektur ruang dalam yang berintegrasi dengan ruang-ruang luar yang mencakup lansekap dan lingkungan sekitar, baik yang didapatkan secara visual maupun berhubungan langsung dengan ruang-ruang luar.

Pada awalnya view ke arah kontur terendah sangat menggoda untuk digunakan arsitek sebagai orientasi bangunan di posisi kontur lahan yang di tengah, yang konsekuensinya membuat lahan sisa di belakang bangunan menjadi tidak menjadi maksimal dikarenakan kondisi batas lahan yang tidak teratur.

Pond 02

Setelah arsitek lebih mendalami dan merasakan keadaan di site dengan imajinasi konsep orientasi ke arah kontur terendah, maka timbul ide untuk lebih menyatukan setiap kondisi site yang ada pada setiap sisi. “Lahan sisa” yang dianggap “menggangu” diputarbalikkan pemikirannya sebagai salah satu potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu orientasi view dari ruang dalam.Dalam hal ini “lahan sisa” yang curam tersebut dimanfaatkan sebagai taman dari ruang kerja yang kebetulan terdapat dua buah pohon besar eksisting, yang memang setiap pohon besar pada lahan ini dipertahankan sebagai salah satu elemen lansekap lahan.

Pond 01

Untuk dapat memanfaatkan “lahan sisa” yang curam tersebut, maka ruang kerja skala ruangnya dibuat maksimal secara vertikal, yaitu dengan meninggikan level plafon dan jendela ruang tersebut, sehingga tercipta permainan rasa ruang pada zona ini. Antara taman dan ruang kerja terdapat water feature dan kolam, sehingga membuat ruang kerja berkesan melayang di atas air. Sedangkan bangunan secara garis besar berorientasi ke arah taman bibit. Kondisi lingkungan sekitar juga dapat dinikmati dari deck balkon lantai atas yang berhubungan dengan ruang keluarga.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*