Breaking

Indonesia Sudah Mendesak Menata Kota Secara Komprehensif

Kontekstual. Ruang yang terbentuk di antara bangunan tinggi dapat menjadi sangat berkualitas dengan penataan elemen vegetasi, jalur pedestrian, dan furnitur jalan secara kontekstual dan desain yang menyatu.


Penataan sebuah kota seringkali menjadi topik yang menarik untuk diperbincangkan. Kompleksitas yang tinggi yang dialami sebuah kota seakan tidak ada habisnya. Sebuah kota akan senantiasa mengalami berbagai permasalahan dalam perkembangannya, baik permasalahan yang terkait lingkungan fisik perkotaan, maupun permasalahan lainnya seperti ekonomi, hukum, sampai pada permasalahan sosial dan budaya perkotaan. Kota-kota di Indonesia, dalam perjalanannya kerap kali juga mengalami berbagai permasalahan tersebut.

Kontekstual. Ruang yang terbentuk di antara bangunan tinggi dapat menjadi sangat berkualitas dengan penataan elemen vegetasi, jalur pedestrian, dan furnitur jalan secara kontekstual dan desain yang menyatu.

Kontekstual. Ruang yang terbentuk di antara bangunan tinggi dapat menjadi sangat berkualitas dengan penataan elemen vegetasi, jalur pedestrian, dan furnitur jalan secara kontekstual dan desain yang menyatu.

Dalam penataan sebuah kota, banyak faktor yang berpengaruh dalam menciptakan lingkungan perkotaan yang baik, sebut saja faktor fungsional atau peruntukan lahan,  struktur kota, ekologi perkotaan, citra visual kota, sampai pada hal-hal yang bersifat abstrak seperti karakter kota.

Perkembangan lingkungan perkotaan yang sangat pesat, terutama di kota-kota besar di Indonesia, seringkali mengabaikan pentingnya faktor ini, ruang-ruang terbuka sangat sulit ditemukan karena setiap jengkal tanah perkotaan seringkali lebih berpihak pada pertimbangan ekonomi dan industri semata.

Secara fungsional, sebuah kota harus menentukan fungsi-fungsi kawasan di dalamnya secara jelas dan teratur. Pembagian fungsi atau tata guna lahan (land use) sangat berpengaruh pada kehidupan dan aktivitas kota secara keseluruhan. Sedangkan secara struktural, kota ditata berdasarkan pertimbangan figure-ground atau solid-void, yang mengatur lay-out perimbangan ruang terbuka dan massa terbangun.

Kedua faktor ini, secara otomatis selalu menjadi pertimbangan utama dalam penataan kota termasuk pada penataan kota-kota di Indonesia. Namun, banyak faktor berpengaruh lainnya yang seringkali diiabaikan dalam penataan kota-kota di Indonesia, seperti sistem ekologi kota, citra visual kota, hak warga kota, sampai pada pemikiran mengenai karakter sebuah kota.

Sistem Ekologi Kota

Sistem ekologi kota merupakan faktor yang sangat penting dalam menciptakan kota yang sehat dan berkelanjutan. Pertumbuhan kota yang sangat pesat seringkali membuat keseimbangan lingkungan terganggu. Kehadiran masa bangunan dan sistem jaringan jalan raya yang memenuhi lingkungan perkotaan, seringkali dilakukan dalam mengakomodasi kepentingan ekonomi dan industri belaka, sementara kepentingan lingkungan menjadi terabaikan. Dampak yang sangat jelas dirasakan adalah terjadinya banjir, polusi udara, suhu udara yang meningkat, pencemaran air, dan permasalahan lingkungan lainnya.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) memainkan peranan yang sangat peting dalam menciptakan sistem ekologi kota. Selain berperan sebagai daerah resapan air, RTH juga berperan dalam menjaga kenyamanan termal kota dan menjadi ruang publik, seperti yang terdapat di tepian sungai Rhein, Koeln Jerman.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) memainkan peranan yang sangat peting dalam menciptakan sistem ekologi kota. Selain berperan sebagai daerah resapan air, RTH juga berperan dalam menjaga kenyamanan termal kota dan menjadi ruang publik, seperti yang terdapat di tepian sungai Rhein, Koeln Jerman.

Tingkat kepadatan lingkungan perkotaan (urban density) yang sangat tinggi dan maraknya gedung-gedung pencakar langit, membentuk barrier yang menyebabkan  terbentuknya daerah-daerah negatif, di mana angin mencapai kecepatan terendahnya. Kurangnya ruang-ruang terbuka yang berfungsi sebagai ruang ‘penangkap angin’ juga menjadi faktor penyebab lainnya. Ibaratkan sebuah rumah, kota memiliki sistem ventilasi udara yang sangat buruk karena ketidakseimbangan wilayah terbangun (solid) dan wilayah terbuka (void).

Leave a comment

Your email address will not be published.


*