Breaking

Jenny Sugianto Single Parent Yang Sukses Sebagai Agen Properti

Menyandang status sebagai single parent bukan halangan bagi Jenny untuk tetap survive dan bahkan bisa menorehkan sukses dalam bekerja. Sebagai single parent, ia diharuskan mampu berperan ganda, menjadi ibu sekaligus ayah bagi kedua anaknya. Tanggung jawab dan beban yang harus dipikulnya pun kian besar. Bagaimana ia harus sendirian mengasuh dan mendidik anak-anak? Tambahan lagi, ia harus menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah dan membiayai kedua buah hatinya agar bisa sekolah.

Jenny bisa digambarkan sebagai wanita pejuang. Berjuang membuktikan dirinya bisa! Berjuang tanpa lelah untuk membahagiakan kedua anaknya. Pada kesempatan ini, Jenny mau berbagi pengalaman bagaimana ia bisa meraih beragam penghargaan di bisnis agen properti yang kian sengit persaingannya sekaligus bisa menafkahi keluarganya. Berikut petikan wawancara yang kami lakukan menjelang siang di kantor Ray White Prestige Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Apa yang membuat Ibu tertarik bergabung sebagai agen properti?

Tertarik bergabung ketika sering bersama teman sesama orang tua murid bertemu saat antar jemput anak sekolah. Waktu itu anak saya masih Sekolah Dasar (SD). Dari keseringan bertemu itu, saya melihat dia (teman-red) kok bisa sambil bekerja padahal dia ibu rumah tangga seperti saya yang juga antar jemput anak sekolah.

Saya perhatikan waktu bekerjanya fleksibel. Beberapa kali saya saksikan ia menjawab panggilan telepon untuk menjadwal ketemu klien setelah usai antar atau jemput anak sekolah. Dalam hati saya berkata, kayaknya enak. Terus muncul pertanyaan. Kenapa gak dicoba? Namun, waktu itu saya enggan untuk bertanya kepadanya.

Suatu waktu ketika sedang di mall, saya ketemu dengan sahabat lama. “Sering ke sini (mall-red)? Tanyanya.” Dalam obrolan tersebut si sahabat ini setengah menawarkan, “Daripada buang-buang waktu di mall kenapa tidak dimanfaatkan waktunya untuk cari uang?”  Kata sobat itu.

Nah, seperti gayung bersambut saya menanggapi ajakannya. Lagi pula saya memang ingin sekali mencari penghasilan semenjak tidak memiliki toko lagi. Selain itu, saya juga masih bisa antar jemput anak sekolah. Saya baru tahu kalau dia bekerja sebagai marketing freelance di Ray White Kelapa Gading.

Kapan persisnya Ibu bergabung dengan Ray White?

Tepat pada tanggal 1 Agustus 2010 saya bergabung dengan Ray White Kelapa Gading. Seperti anggota baru lainnya yang baru bergabung, saya diwajibkan mengikuti pelatihan selama enam hari di kantor pusat Ray White.

Saat bergabung saya mengabarkan kepada teman-teman baik di Facebook dan Blackberry-Messenger (BBM) bahwa saya bergabung dengan Ray White. Melalui jejaring sosial ini ada sahabat yang mau menjual apartemennya di wilayah Senayan, Jakarta Pusat. Saya kemudian memasang iklan di internet perihal apartemen yang akan dijual tersebut. Tidak lama setelah ditayang ada yang tertarik dan ingin melihat unit apartemennya.

Kunjungan pun dilakukan. Baik calon pembeli dan penjual serta saya sebagai perantara bertemu dan melihat kondisi apartemennya. Saya sendiri sebelumnya belum pernah melihat langsung apartemen itu. Pembeli tertarik dan keesokan harinya transaksi jual beli pun berlangsung. Jadi dua minggu sejak bergabung saya sudah berhasil melakukan penjualan. Pada bulan-bulan berikutnya saya terus berhasil melakukan penjualan. Bagi saya ini dapat terlaksana karena kemurahan Tuhan semata.

Mengapa Ibu tertarik bergabung dengan Ray White?

Saya menyaksikan kalau brand Ray White sudah dikenal dengan baik di tengah masyarakat kita. Di samping itu, jaringannya juga luas, ada dimana-mana. Saat ini ada sekitar 200 kantor cabang Ray White di seluruh Indonesia, dan kantor-kantor baru terus dibuka. Nama besar dan jaringan yang luas ini saya  buktikan sendiri. Bukan sekali dua kali, tetapi cukup sering kalau sebuah properti yang dijual umumnya dipenuhi spanduk dari berbagai agen, tetapi yang dihubungi Ray White. Ini pengalaman yang saya alami.

Prestasi-prestasi apa saja yang pernah Ibu raih?

Beberapa penghargaan yang pernah saya raih antara lain, pada tahun 2012 saya masuk ke dalam Top 10 Marketing di kantor Ray White Kelapa Gading Barat dan masuk ke dalam club Ray White Elite Performer. Pada tahun 2014 saya masuk ke dalam Top #2 di kantor Ray White Boulevard Kelapa Gading, masih pada tahun 2014 saya berhasil masuk Top #13 di Ray White Group Kelapa Gading dan masuk ke jajaran Ray White Elite Performer 2014. Pada tahun 2016, saya masuk Top #1 di 2nd Triannual Ray White Indonesia, diteruskan pada tahun yang sama yakni 2016, saya masuk Top #1 di kantor Ray White Prestige Kelapa Gading, dan kemudian pada acara Annual Awards 2017, dan mendapatkan penghargaan Top #1 di Ray White Annual 20th Awards dan sebagai Marketing of The Year 2016 serta mendapatkan Elite Performer 2016.

Apa strategi Ibu sehingga berhasil menjadi marketing yang sukses?

Saya tidak memiliki strategi khusus dalam memasarkan properti yang saya tangani. Namun satu hal yang saya tekankan adalah selalu berlaku jujur. Memberikan informasi apa adanya,  tidak kurang dan tidak lebih.

Untuk itu saya akan menanyakan kelengkapan surat-suratnya, termasuk keberadan sertifikatnya. Jangan sampai pada saat proses transaksi ternyata sertifikatnya diagunkan di bank. Dan kita sebelumnya tak menanyakannya kepada penjual. Hal ini akan mengecewakan customer. Di mata calon pembeli, seolah-olah kita sengaja menyembunyikan hal tersebut. Padahal kita tidak berniat begitu.

Maka penting untuk menggali informasi yang selengkap-lengkapnya mengenai properti yang sedang kita tangani. Termasuk apakah pemilik berada dalam kasus mau atau sedang dalam proses perceraian. Jadi, sebagai perantara kita harus menyampaikan selengkap-lengkapnya. Kalau kita memberikan informasi yang lengkap, tentu akan memberi kepuasan dan ketenangan bagi customer.

Yang tak kalah pentingnya, saya juga selalu memperluas networking melalui beragam jaringan di sosial media dan melakukan branding baik di internet maupun di media cetak dengan memasang iklan.

Dalam bekerja apakah Ibu menetapkan target-target tertentu yang harus dicapai?

“Saya tidak pernah membuat target. Kalau ditarget saya stress. Namun dalam bekerja saya mengoptimalkan pikiran, waktu, dan tenaga untuk memberikan yang terbaik,” tandas penyuka warna biru dan coklat ini.

Apakah ibu pernah mendapat hambatan selama bekerja sebagai marketing?

Hambatan tentu ada. Seperti yang membuat kesal ketika di by pass. Kita sudah mengajak klien ketemu penjual, namun diam-diam pembeli menemui penjual secara langsung tanpa melibatkan kita. Atau ia menghubungi agen lain. Selain itu, ada pula masalah kesepakatan uang muka dengan calon pembeli. Contoh, pembeli mengajukan pinjaman Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Rp 700 juta ke bank, sementara bank menyetujui 400 juta. Tetap uang muka yang sudah dibayarkan diminta, padahal KPR-nya tidak ditolak, hanya jumlahnya yang tidak penuh. Padahal berdasarkan perjanjian sudah ditegaskan bahwa kalau KPR ditolak maka uang muka dikembalikan. Ini kan KPR-nya tidak ditolak, tetapi tetap saja diminta uang muka yang sudah dibayarkan.

Sukses sebagai marketing, apakah ibu berencana ingin menjadi principal?

Walau banyak tawaran untuk menjadi principal, saya tidak tertarik. Saya lebih senang seperti sekarang ini menjadi marketing freelance.

Apakah Ibu juga aktif dalam kegiatan sosial?

Selain aktif di gereja sebagai anggota paduan suara dan tugas-tugas gereja, ia juga aktif di organisasi sosial. Tak tanggung-tanngung ia menjabat Presiden Lions Club Jakarta Centennial Kelapa Gading Prestige. “Di perkumpulan ini kami mempunyai beragam kegiatan antara lain memberikan bantuan kaca mata gratis bagi anak-anak sekolah. Setiap hari raya besar keagamaan kami memberi bingkisan untuk panti asuhan, panti jompo, dan rumah singgah, serta program-program lainnya,” papar penyuka novel Sidney Sheldon dan S. Mara.GD ini.

Apakah penampilan mempengaruhi keberhasilan Ibu? 

Penampilan memang perlu, tetapi bukan berarti harus memakai pakaian yang branded. Kalau saya dalam berbusana prinsipnya yang penting sopan, rapi dan pantas dipakai. Cara berbusana mencerminkan kepribadian seseorang. Saya tidak pernah memakai pakaian yang tidak pantas, yang bisa memberi penilaian rendah kepada kita yang memakainya.

Adakah pesan yang ingin Ibu sampaikan kepada para marketing di Ray White?

Tetaplah bersemangat dan fokus. Merasa bangga dengan pekerjaan sebagai marketing Ray White. Dan selalu memaksimalkan diri untuk memberikan yang terbaik.

Hal apa yang membahagiakan bagi ibu?

Bisa menyaksikan kedua anak saya untuk hidup hormat dan takut kepada Tuhan merupakan kebahagian yang besar. Ini yang utama. Anak-anak mampu menempatkan Tuhan yang pertama dalam seluruh aspek hidupnya. Ini adalah pondasi yang penting bagi anak-anak. Untuk itu, sebagai ibu saya menyediakan hari Sabtu dan Minggu untuk berkumpul bersama kedua anak saya. Hari minggu saya dan anak-anak wajib ke gereja.

Di samping itu, sebagai ibu saya tentu berbahagia kelak ketika bisa menyaksikan keduanya bisa menyelesaikan belajarnya sampai ke perguruan tinggi. Saat ini anak pertama sedang menempuh kuliah di Singapura dan anak kedua sedang menempuh pendidikan SMA.

Apa yang ibu lakukan untuk lebih dekat dengan anak-anak?

Saya biasanya mengajak anak-anak makan bersama atau nonton bersama. Ini salah satu cara yang saya lakukan untuk lebih dekat dengan mereka. Selain itu, saya biasakan diri sudah berada di rumah pada pukul 18:WIB.

Foto: Doc. Jenny Sugianto

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*