{"id":15792,"date":"2025-12-05T02:00:35","date_gmt":"2025-12-05T02:00:35","guid":{"rendered":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/?p=15792"},"modified":"2025-12-05T02:00:37","modified_gmt":"2025-12-05T02:00:37","slug":"the-yunlu-wetland-museum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/the-yunlu-wetland-museum\/","title":{"rendered":"The Yunlu Wetland Museum"},"content":{"rendered":"<p>Museum Lahan Basah Yunlu terletak di Taman Lahan Basah Yunlu di Shunde, berdekatan dengan sebuah pulau ekologi yang dihuni oleh 25.000 bangau putih. Bangunan ini menggabungkan menara pengamat burung dan museum lahan basah, dengan tujuan meningkatkan kesadaran pengunjung tentang ekologi lahan basah sekaligus memberikan pengalaman mengamati burung yang unik.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/Gz4F951\/1-A-Photo-Arch-Exist2.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Museum Lahan Basah Yunlu berdekatan dengan sebuah pulau ekologi yang dihuni oleh 25.000 bangau putih. Photo by Arch-Exist.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Proyek ini berawal dari sebuah hutan bambu yang ditanam oleh \u201cPaman Burung\u201d Xian Quanhui 26 tahun lalu. Dengan masuknya sejumlah besar bangau putih, niat baik mendorong Paman Burung untuk menjadikan oasis ini sebagai \u201csurga bangau putih\u201d di dalam kota melalui upaya puluhan tahun. Saat ini, pemerintah Shunde telah memperluas area perlindungan Surga Bangau Putih hingga 13 kali lipat, bekerja sama dengan ilmuwan, insinyur, dan desainer untuk memulihkan sistem air, memperbarui hutan bambu, dan membentuk ulang area ini menjadi Taman Lahan Basah Yunlu.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/9mLx9Mcw\/2-A-Photo-Tian-Fangfang1.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Bangunan ini menggabungkan menara pengamat burung dan museum lahan basah. Photo by Tian Fangfang.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Para arsitek memilih untuk menyembunyikan bangunan di belakang deretan hutan cedar yang sudah ada. Bentuk bangunannya terdiri dari empat tabung beton yang ditumpuk secara vertikal, menyerupai empat \u201clensa\u201d yang berputar secara horizontal untuk menangkap aktivitas bangau putih.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/HpVC3xmV\/3-Photo-Tian-Fangfang3.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Bangunannya terdiri dari empat tabung beton yang ditumpuk secara vertikal yang menyerupai empat \u201clensa.\u201d Photo by Tian Fangfang.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Desain ini bertujuan meminimalkan kehadiran bangunan dan hidup berdampingan secara harmonis dengan \u201cmakhluk asli\u201d di area tersebut dengan sikap yang rendah hati. Melihat museum dari Pulau Bangau Putih, bangunan tersebut \u201cmenghilang\u201d ke dalam hutan subtropis yang rimbun.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/8402xNSh\/4-A-Photo-Arch-Exist4.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Setiap tabung bangunan diputar ke arah pandang optimal sesuai kondisi tapak yang membentuk empat \u201cbingkai pandang.\u201d Photo by Arch-Exist.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Setiap tabung pada museum diputar ke arah pandang optimal sesuai kondisi tapak, membentuk empat \u201cbingkai pandang\u201d yang saling bergeser di ruang dalam. Lantai 1 hingga 4 menghadap ke akar pohon, batang, mahkota, dan pucuk pohon. Pengunjung dapat mengamati bayangan pepohonan yang bergoyang dan burung-burung yang beterbangan di Pulau Bangau Putih dari ketinggian yang berbeda di dalam bangunan. Dengan cara ini, perspektif arsitektur tradisional yang berorientasi manusia didekonstruksi menjadi perspektif terfragmentasi yang berorientasi pada alam.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/Cs40DZG0\/5-A-Photo-Tian-Fangfang2.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Tujuan museum ini untuk meningkatkan kesadaran pengunjung tentang ekologi lahan basah sekaligus memberikan pengalaman mengamati burung yang unik. Photo by Tian Fangfang.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Empat tabung yang ditumpuk ini dibagi oleh sebuah atrium segitiga vertikal melalui metode Boolean difference, yang menghubungkan volume pada empat lantai tersebut. Atrium ini menjadi \u201ctitik pandang\u201d bersama dari berbagai perspektif di dalam bangunan. Berdiri di sini, seseorang dapat secara bersamaan melihat ke alam melalui tabung-tabung yang mengarah ke berbagai sisi. Jendela bidik di ujung setiap tabung tampak seperti beberapa lukisan lanskap yang dipilih dengan cermat dan digantung di dalam ruang.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/4B4ZMRs\/6-Photo-Tian-Fangfang4.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Berada di dalam bangunan, pengunjung dapat merasakan secara fisik aliran musim dan perubahan alam. Photo by Tian Fangfang.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Bangunan ini mengadopsi sistem struktur beton tipe kotak. Dinding samping, pelat atas, dan pelat bawah dari setiap tabung bekerja bersama untuk memberikan dukungan beban secara keseluruhan. Dilunakkan oleh balok-balok besar, cahaya matahari menyaring melalui skylight atas dan menembus ke dalam interior bangunan. Berada di dalam bangunan, pengunjung dapat merasakan secara fisik aliran musim dan perubahan alam.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/pv0f7gpf\/7-A-Photo-Arch-Exist3.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Museum Lahan Basah Yunlu terletak di Taman Lahan Basah Yunlu di Shunde. Photo by Arch-Exist.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Agar tidak merusak lingkungan lahan basah, setelah memetakan 560 pohon yang ada, arsitek dengan hati-hati menentukan lokasi bangunan, mengurangi jejak tapak, dan memutar volume tiap lantai. Hal ini juga memastikan bangunan dapat menangkap pemandangan pengamatan burung yang baik sambil meminimalkan penebangan pohon asli.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/pBJ5djbg\/8-Photo-Tian-Fangfang5.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Cahaya matahari menyaring melalui skylight atas dan menembus ke dalam interior bangunan. Photo by Tian Fangfang.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Fasad eksterior bangunan dibuat dari beton cetak di tempat dengan cetakan kayu pinus. Serat halus pada kayu pinus memberi fasad tekstur alami yang selaras dengan hutan lebat di sekitarnya. Atap bangunan ditutupi oleh kolam teratai, dan elemen air ekologis ini memperlemah kehadiran bangunan pada tampilan dari arah atas (elevasi kelima).<br><br><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Project Name<\/strong>: Shunde Yunlu Wetland Museum<br><strong>Project Location<\/strong>: Guangdong, China<br><strong>Area<\/strong>: 1,800 sqm<br><strong>Client<\/strong>: CR Land, Shunde People\u2019s Government of Foshan<br><strong>Design Stage<\/strong>: 09\/2023-04\/2024<br><strong>Construction Stage\/Completion<\/strong>: 09\/2024<br><strong>Chief Architect<\/strong>: Yichen Lu<br><br><strong>Architect &amp; Engineer of Record<\/strong>: Shenzhen A+E Design Co., Ltd.<br><strong>Structural Consultant<\/strong>: Shenzhen WS Engineering Design Consultant Ltd. \/ Shenzhen A+E Design Co., Ltd.<br><strong>Curtain Wall Consultant<\/strong>: Zheng Xiang Consultant<br><strong>Landscape Designer<\/strong>: CHANGE<br><strong>Interior Consultant<\/strong>: Yu Studio<br><strong>Lighting Consultant<\/strong>: Gradient Lighting Design<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>The Yunlu Wetland Museum is located in Yunlu Wetland Park in Shunde, adjacent to an ecological island inhabited by 25,000 egrets. The building combines a bird-watching tower and a wetland museum, aiming to raise visitors&#8217; awareness of the ecology of the wetland while providing a unique bird-watching experience. The project originated from a bamboo forest [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":15794,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[20,14],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15792"}],"collection":[{"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15792"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15792\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15798,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15792\/revisions\/15798"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15794"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15792"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15792"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15792"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}