{"id":16389,"date":"2026-08-05T02:47:55","date_gmt":"2026-08-05T02:47:55","guid":{"rendered":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/?p=16389"},"modified":"2026-08-05T02:51:58","modified_gmt":"2026-08-05T02:51:58","slug":"shenzhen-natural-history-museum-officially-opens-becoming-one-of-the-worlds-largest-natural-history-museums","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/shenzhen-natural-history-museum-officially-opens-becoming-one-of-the-worlds-largest-natural-history-museums\/","title":{"rendered":"Museum Sejarah Alam Shenzhen Resmi Dibuka, Menjadi Salah Satu Museum Sejarah Alam Terbesar di Dunia"},"content":{"rendered":"<p>Museum Sejarah Alam Shenzhen resmi dibuka untuk umum pada 28 Juli 2026, menandai hadirnya salah satu museum sejarah alam terbesar yang baru dibangun di dunia sekaligus yang terbesar di kawasan Tiongkok Selatan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai proyek unggulan dalam investasi Shenzhen terhadap institusi budaya di \"era baru\", museum ini menghadirkan sebuah ikon budaya baru bagi kota tersebut\u2014yang mencerminkan kepemimpinannya dalam bidang sains, pendidikan, dan kehidupan publik, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pusat inovasi dan desain berskala global.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/RkqnxqL0\/1.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Museum Sejarah Alam Shenzhen dirancang bukan hanya sebagai bangunan pameran, tetapi juga sebagai lanskap publik yang menghubungkan arsitektur, ekologi, dan ruang kota dalam satu pengalaman yang berkesinambungan.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Dirancang oleh konsorsium 3XN, B+H Architects, dan Zhubo Design, museum ini memiliki luas lebih dari 100.000 meter persegi dan menjulang dari lanskap delta sungai di tepi Danau Yanzi melalui bentang atap, teras, dan plaza yang saling menyatu. Museum ini dirancang bukan hanya sebagai bangunan pameran, tetapi juga sebagai lanskap publik yang menghubungkan arsitektur, ekologi, dan ruang kota dalam satu pengalaman yang berkesinambungan. Atapnya yang dapat diakses pejalan kaki memperluas permukaan lanskap alami sekaligus mengundang masyarakat untuk memanfaatkannya dalam aktivitas sehari-hari, bahkan di luar area galeri.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/938HhWcr\/2.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Atapnya yang dapat diakses pejalan kaki mengundang masyarakat untuk memanfaatkannya dalam aktivitas sehari-hari, bahkan di luar area galeri.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Dari kejauhan, museum tampak seperti formasi geologi yang mengalir, dengan fasad granit dan bukaan-bukaan yang dipahat, memberikan petunjuk akan ruang pameran yang tersembunyi di dalamnya. Siluet bangunan yang dinamis terinspirasi oleh sistem sungai dan perbukitan di kawasan sekitarnya. Di bagian interior, lima volume berbentuk kerucut menjadi elemen utama yang mengatur ruang pamer sekaligus membentuk karakter spasial museum. Saat bergerak di antara volume-volume tersebut, pengunjung akan merasakan pengalaman layaknya menjelajahi lorong-lorong gua, atrium, teras, dan panorama yang tertata, sehingga kisah sejarah alam tersaji sebagai perjalanan imersif melalui bentuk, cahaya, dan lanskap.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p><strong>\"Tidak ada bentuk di alam yang benar-benar persegi. Alam bersifat organik, dinamis, dan terus berkembang. Sejak awal, ambisi kami bukanlah menciptakan sebuah bangunan, melainkan menghadirkan sepotong lanskap yang seolah telah ada sejak dahulu\u2014dibentuk oleh geologi lokal, air, dan waktu. Gagasan tersebut terus dipertahankan sejak tahap kompetisi hingga museum yang dibuka hari ini, sebuah tempat di mana kisah planet kita dapat dialami sebagai perjalanan fisik melalui bentang alam, cahaya, dan ruang.\"<\/strong> \u2013 kata Kim Herforth Nielsen, Pendiri, Senior Partner, sekaligus Creative Director di 3XN.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/p6sppccM\/3.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Lima volume berbentuk kerucut menjadi elemen utama yang mengatur ruang pamer sekaligus membentuk karakter spasial museum.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Di dalam museum, delapan galeri tematik mengajak pengunjung menelusuri 4,6 miliar tahun sejarah Bumi, mulai dari asal-usul alam semesta, munculnya kehidupan, era dinosaurus, evolusi manusia, hingga sistem ekologi yang membentuk Shenzhen dan dunia. Museum ini menampilkan koleksi spesimen hewan, tumbuhan, mineral, dan fosil, dilengkapi instalasi berskala besar serta lingkungan multimedia yang menghubungkan narasi sejarah alam dunia dengan karakter pegunungan, sungai, dan laut di kawasan Tiongkok Selatan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/fGx4DHsf\/4.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Pengunjung akan merasakan pengalaman layaknya menjelajahi lorong-lorong gua, atrium, teras, dan panorama yang tertata, sehingga kisah sejarah alam tersaji sebagai perjalanan imersif melalui bentuk, cahaya, dan lanskap.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Tim arsitek bekerja sama secara intensif dengan perancang pameran Atelier Br\u00fcckner dan Museum Studio dalam menyusun skenografi galeri utama. Dinding melengkung, geometri berbentuk kerucut, dan ruang-ruang vertikal dimanfaatkan untuk menciptakan pengalaman pameran yang imersif dan kaya media, sehingga narasi sejarah alam terasa lebih hidup. Di seluruh museum, spesimen, instalasi berskala besar, dan media sinematik berpadu dengan arsitektur, mengubah pengunjung dari sekadar penonton menjadi bagian aktif dalam kisah sejarah alam.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p><strong>\"Mewujudkan ambisi ini menjadi museum sejarah alam kelas dunia membutuhkan lebih dari sekadar membangun sebuah bangunan dengan skala dan kompleksitas luar biasa. Proyek ini menuntut kolaborasi yang menyatu antara arsitektur, rekayasa teknik, arsitektur lanskap, perencanaan pameran, dan konstruksi. Salah satu elemen utamanya adalah taman atap yang memperluas museum ke dalam lanskap kota Shenzhen, sehingga masyarakat dapat menikmatinya sebagai bagian dari ruang publik kota. Hasil akhirnya menunjukkan apa yang dapat dicapai melalui kolaborasi multidisiplin ketika ambisi desain, keahlian pelaksanaan, dan ketelitian teknis berpadu.\"<\/strong>\u2013 kata David Stavros, Senior Design Principal dan mantan Executive Vice President Asia di B+H Architects<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/xtZfTS2k\/5.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Di seluruh museum, spesimen, instalasi berskala besar, dan media sinematik berpadu dengan arsitektur, mengubah pengunjung dari sekadar penonton menjadi bagian aktif dalam kisah sejarah alam.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Museum ini merupakan hasil kolaborasi internasional yang erat, memadukan kepemimpinan desain 3XN dari Kopenhagen, kepemimpinan B+H Architects dalam pelaksanaan proyek dan desain lanskap, serta keahlian Zhubo Design dalam aspek teknis dan kepatuhan terhadap regulasi lokal di Shenzhen. Proses realisasi proyek ini memerlukan koordinasi yang sangat kompleks lintas disiplin, lintas negara, dan lintas tahapan konstruksi, sembari tetap mempertahankan kejelasan konsep yang memenangkan kompetisi desain hingga menjadi bangunan dengan kompleksitas teknis dan arsitektural yang tinggi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/HLhk6Tsp\/6.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Siluet bangunan yang dinamis terinspirasi oleh sistem sungai dan perbukitan di kawasan sekitar Shenzhen.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Dalam beberapa minggu mendatang, berbagai dokumentasi tambahan mengenai ruang interior museum, area pameran, dan lanskap taman atap akan dipublikasikan seiring museum menyambut para pengunjung pertamanya dan mulai mengukuhkan posisinya sebagai destinasi budaya utama bagi masyarakat lokal maupun wisatawan internasional.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p><strong>\"Museum Sejarah Alam Shenzhen dirancang untuk menginterpretasikan hukum evolusi alam sekaligus menampilkan karakter geografis Shenzhen dalam perspektif ekologi global. Museum ini menghimpun koleksi dan penelitian yang menelusuri perjalanan 4,6 miliar tahun sejarah Bumi, namun arsitekturnyalah yang menjadikan kisah tersebut dapat dirasakan secara nyata. Dengan menjadikan museum sebagai lanskap edukasi yang hidup\u2014mulai dari taman atap hingga galeri berbentuk kerucut\u2014pengunjung dari Shenzhen maupun berbagai belahan dunia dapat merasakan sains, alam, dan identitas tempat sebagai satu perjalanan yang utuh dan khas.\"<\/strong> \u2014 kata Nan Zhaoxu, Direktur Kantor Persiapan Museum Sejarah Alam Shenzhen.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p><strong>Project name<\/strong>: Shenzhen Natural History Museum<br><strong>Location<\/strong>: Pingshan District, Shenzhen, China<br><strong>Design Consortium<\/strong>: 3XN, B+H Architects, and Zhubo Design<br>3XN (Lead Designer; Concept Design), B+H Architects (Lead Consultant, Executive Architect, Landscape Architect, Interior Design), Zhubo Design (Local technical compliance and delivery)<br><strong>Engineer<\/strong>: Zhubo Design (Structural, MEP)<br><strong>Client<\/strong>: Shenzhen Government \/Bureau of Public Works of Shenzhen Municipality<br><strong>Tenant<\/strong>: Shenzhen Municipal Bureau of Culture, Radio, Television, Tourism, and Sports<br><strong>Gross Floor Area<\/strong>: 105,300 m\u00b2<br><strong>Construction start<\/strong>: March 2022<br><strong>Completion<\/strong>: July 2026<br><strong>Photographer<\/strong>: Adam M\u00f8rk<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Shenzhen Natural History Museum officially opened to the public on 28 July 2026, marking the debut of one of the world&#8217;s largest newly built natural history museums and the largest of its kind in South China. As a flagship of Shenzhen\u2019s investment in a \u2018new era\u2019 of cultural institutions, the museum gives the city a [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":16401,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[20,33,14],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16389"}],"collection":[{"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16389"}],"version-history":[{"count":10,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16389\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16400,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16389\/revisions\/16400"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16401"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16389"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16389"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16389"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}