{"id":16454,"date":"2026-08-18T02:12:29","date_gmt":"2026-08-18T02:12:29","guid":{"rendered":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/?p=16454"},"modified":"2026-08-18T02:13:23","modified_gmt":"2026-08-18T02:13:23","slug":"mrt-jakarta-phase-2a-construction-milestones-and-engineering-challenges","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/mrt-jakarta-phase-2a-construction-milestones-and-engineering-challenges\/","title":{"rendered":"MRT Jakarta Fase 2A: Tonggak Konstruksi dan Tantangan Rekayasa"},"content":{"rendered":"<p>Antusiasme warga Jakarta dan komuter yang menggunakan MRT Jakarta terus mengalami peningkatan. Menurut PT MRT Jakarta (Perseroda), MRT Jakarta Fase 1 sudah mengangkut sekitar 46 hingga 47 juta penumpang per tahun, yaitu 46,5 juta orang pada tahun 2025 dan mencapai kisaran 47 juta penumpang dalam periode satu tahun operasional terakhir. Rata-rata layanan ini mencatatkan keterangkutan harian lebih dari 127 ribu hingga 137 ribu orang.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Untuk proyek MRT Jakarta Fase 2A yang sedang berlangsung, PT MRT Jakarta (Perseroda) berupaya melampaui target pekerjaan.<br>Proyek MRT Jakarta Fase 2A membentang sepanjang 5,8 kilometer dari Bundaran HI hingga Kota. Fase ini menghadirkan terowongan bawah tanah bertingkat pertama di Indonesia, stasiun terdalam, dan terintegrasi dengan cagar budaya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Berikut adalah tonggak konstruksi dan tantangan rekayasa MRT Jakarta Fase 2A.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h2>Terowongan Bertingkat Pertama di Indonesia<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/tTBKHnq5\/1.jpg\" alt=\"\"\/><figcaption>Stasiun MRT Sawah Besar \u2013 Mangga Besar dibangun hingga kedalaman sekitar 28 meter di bawah permukaan tanah. Keduanya menjadi stasiun MRT pertama terdalam di Indonesia.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Dunia konstruksi Indonesia mencetak sejarah berhasil membangun terowongan bertingkat dan stasiun bertingkat pertama.  Keberhasilan tersebut sebagai upaya untuk mengatasi keterbatasan lahan dan padatnya utilitas jalan raya di kawasan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, terowongan arah utara dan selatan dibuat bertumpuk secara vertikal (bertingkat). Desain bertingkat diterapkan antara Stasiun MRT Harmoni hingga Mangga Besar.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p><strong>\u201cSelain keterbatasan lahan dan padatnya utilitas jalan raya di kawasan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, kedua area ini juga dipisahkan oleh sungai Ciliwung. Untuk membangun terowongannya pekerja harus menunggu musim kering karena harus memasang sheet pile beton di dasar sungai. Kita menjadwalkan pekerjaanya saat air mulai surut,\u201d<\/strong> \u2014Weni Maulina, Construction Director of PT MRT Jakarta (Perseroda).<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Bandingkan dengan terowongan MRT Jakarta Fase 1 dimana posisi jalur sejajar berdampingan untuk jalur arah utara dan selatan. Demikian pula letak peron yang berada pada satu level atau lantai yang sama di dalam stasiun.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tantangan  pembuatan Terowongan Bertingkat  antara lain:<\/strong><br>Proyek berada di Kawasan padat: Koridor Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk dipenuhi banyak bangunan serta utilitas bawah tanah yang padat, sehingga jalur kereta arah utara dan selatan tidak bisa dibuat sejajar.<br>Tanah lunak: Karakteristik tanah Jakarta di area tersebut bersifat lunak dan membutuhkan tingkat kedalaman ekstrem hingga 28 meter. Pengeboran terowongan MRT Jakarta menggunakan mesin bor raksasa (Tunnel Boring Machine).<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p><strong>\u201cAda banyak kendala yang kita hadapi selama pembangunan, namun minimal ada empat yang pokok, yaitu area jalan yang sempit, kondisi tanah lunak yang perlu diperbaiki dengan soil improvement, adanya utilitas pipa dan kabel, dan ditemukannya benda cagar budaya. Dan pekerjaan kita bisa melewati target,\u201d<\/strong> \u2014 Tuhiyat, President Director of PT MRT Jakarta (Perseroda).<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<h2><strong>Stasiun Bawah Tanah Terdalam di Indonesia<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/MDvMgnSN\/2.jpg\" alt=\"\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Berlokasi di pusat kota yang padat, Stasiun Sawah Besar \u2013 Mangga Besar dibangun hingga kedalaman sekitar 28 meter di bawah permukaan tanah. Terowongan Stasiun Sawah Besar \u2013 Mangga Besar menjadi terowongan kereta bawah tanah terdalam di Indonesia yang dibangun bertumpuk. Sebuah milestone dalam konstruksi sipil di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote\"><p><strong>\u201cSetelah melewati Stasiun Harmoni menuju Stasiun Kota (arah Utara), nanti Ratangga yang semula berada di terowongan dua akan menuju ke terowongan empat yaitu terowongan Stasiun Sawah Besar \u2013 Mangga Besar dengan kedalaman 28 meter,\u201d<\/strong> \u2014 Sonny Desta Primandani, Division Head of PMC 1 at MRT Jakarta (Perseroda).<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p><strong>Stasiun Harmoni<\/strong><br>Jumlah lantai: 2<br>Panjang: 252 meter<br>Lebar: 17-18 meter<br>Kedalaman: 17 meter<br>Jumlah entrance: 7 (4 di trotoar, 3 terintegrasi halte Transjakarta)<br><br><strong>Stasiun Sawah Besar<\/strong><br>Jumlah lantai: 4<br>Panjang: 250 meter<br>Lebar: 17 meter<br>Kedalaman: 28 meter<br>Jumlah entrance: 5 (4 di trotoar, 1 terintegrasi halte Transjakarta)<br><br><strong>Stasiun Mangga Besar<\/strong><br>Jumlah lantai: 4<br>Panjang: 223 meter<br>Lebar: 19 meter<br>Kedalaman: 28 meter<br>Jumlah entrance: 5 (4 di trotoar, 1 terintegrasi halte Transjakarta)<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/sv9mXtqJ\/4.jpg\" alt=\"\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Struktur stasiun empat lantai ini terdiri dari:<\/strong><br>Lantai 1 \u2013 Beranda peron (concourse)<br>Lantai 2 \u2013 Peron arah selatan (Stasiun Lebak Bulus)<br>Lantai 3 \u2013 Level mekanikal (concourse\/mechanical level)<br>Lantai 4 \u2013 Peron arah utara (Stasiun Kota)<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai perbandingan di MRT Fase 1 stasiun terdalam ada pada Stasiun MRT Dukuh Atas dengan kedalaman 24 meter di bawah permukaan tanah.<\/p>\n\n\n\n<h2>Stasiun Termegah dan Terpanjang<\/h2>\n\n\n\n<p>Stasiun MRT Thamrin didapuk menjadi stasiun terpanjang MRT sekitar 455 meter yang memiliki 8 pintu masuk serta terintegrasi langsung dengan Stasiun MRT Dukuh Atas dan berbagai moda lainnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/YFp9nhYG\/5.png\" alt=\"\"\/><figcaption>Stasiun MRT Thamrin akan menjadi stasiun yang mengintegrasikan koridor Utara-Selatan dan Timur-Barat.<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Panjang total stasiun MRT Thamrin mencapai 455 meter, dari area Hotel Sari Pacific hingga dekat kantor Kementerian ESDM. Seluruh stasiun berada di bawah tanah Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat dengan kedalaman mulai dari 17 meter hingga 36 meter di bawah tanah. Stasiun ini memiliki area 200 meter yang disiapkan sebagai area komersial.<\/p>\n\n\n\n<h2>Stasiun Thamrin akan Integrasikan Jalur Utara-Selatan dan Jalur Timur-Barat<\/h2>\n\n\n\n<p>Stasiun Thamrin akan menjadi stasiun yang mengintegrasikan koridor Utara-Selatan dan Timur-Barat. Sebagai  pertemuan jalur, Stasiun Thamrin  dilengkapi dengan banyak titik akses atau pintu masuk (entrance) serta menara ventilasi pendingin (cooling tower ventilation \/ CVT).<br>Progres pembangunannya telah mencapai tahap penyelesaian akhir (finishing) dan ditargetkan untuk mulai melayani publik pada tahun 2027.<\/p>\n\n\n\n<h2>Integrasi Antarmoda yang Masif<\/h2>\n\n\n\n<p>Stasiun MRT Harmoni akan dibangun raksasa setinggi dua lantai di bawah tanah dan terintegrasi langsung dengan halte Transjakarta layang (Bus Rapid Transit), yang memungkinkan pengguna berpindah moda dengan mudah.<br>Stasiun MRT Harmoni dibangun sepanjang 252 meter dengan 7 akses pintu masuk (Entrance) di Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk menuju stasiun bawah tanah di kedalaman 17 meter dari permukaan tanah (ground level).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img src=\"https:\/\/i.ibb.co.com\/wFpvFrSn\/3.jpg\" alt=\"\"\/><\/figure>\n\n\n\n<h2>Cagar budaya<\/h2>\n\n\n\n<p>Jalur konstruksi melewati area bangunan cagar budaya bersejarah di sekitar rute pusat kota yang wajib dijaga keamanannya agar tidak rusak.<br><br>Pekerja proyek MRT Jakarta menemukan cagar budaya berupa rel trem kuno peninggalan kolonial Belanda dari tahun 1869. Rel trem itu ditemukan pada Rabu (9\/11\/2022). Selanjutnya, tim arkeolog dari Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dan Universitas Indonesia secara bertahap akan mengekskavasi rel trem lebih kurang 100 meter tersebut kemudian dibawa ke tempat penyimpanan sementara milik Perum PPD di Jelambar, Jakarta Barat.<\/p>\n\n\n\n<h2>Desain Bernuansa Sejarah di Kota Tua<\/h2>\n\n\n\n<p>Khusus untuk paket Glodok hingga Kota, stasiun MRT dirancang dengan konsep ikonik \u201cDawara Batavia\u201d. Stasiun ini akan dilengkapi underground gallery yang menyimpan artefak arkeologi.<br><br>Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A paket CP203 Glodok\u2013Kota terus menunjukkan progres positif dengan capaian 86,03 persen per 22 Juli 2026. Bukan sekadar menghadirkan konektivitas baru, proyek ini juga dirancang untuk menghidupkan kembali identitas kawasan bersejarah Kota Tua melalui konsep ikonik \u201cDawara Batavia\u201d atau \u201cGerbang Batavia.\u201d<\/p>\n\n\n\n<h2>Target Operasional Bertahap<\/h2>\n\n\n\n<p>Jalur dari Bundaran HI hingga Monas ditargetkan selesai dan mulai beroperasi pada akhir tahun 2027.<br>Sedangkan jalur keseluruhan hingga Stasiun Kota ditargetkan beroperasi secara komersial pada akhir tahun 2029.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>The enthusiasm among Jakarta residents and commuters using MRT Jakarta continues to grow. According to PT MRT Jakarta (Perseroda), MRT Jakarta Phase 1 has carried approximately 46 to 47 million passengers per year, reaching 46.5 million passengers in 2025 and around 47 million passengers during the latest one-year operating period. On average, the service carries [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":16476,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[33,14,44],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16454"}],"collection":[{"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16454"}],"version-history":[{"count":19,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16454\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16478,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16454\/revisions\/16478"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16476"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16454"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16454"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/buildingindonesia.co.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16454"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}