Hunian ini merupakan sebuah intervensi sensitif pada bangunan yang sudah ada, mempertahankan dinding granit, atap pelana, dan ritme bukaan asli, sekaligus menciptakan interior kontemporer, tata ruang yang fungsional, dan koneksi privat ke area luar. Proyek ini menyeimbangkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, mengubah rumah menjadi tempat tinggal abadi yang memadukan warisan, kenyamanan, dan kedalaman emosional.

Sudah menjadi pemahaman umum bahwa praktik arsitektur tidak pernah dimulai dari lembar kosong. Selalu ada sesuatu, betapapun kecilnya yang melekat pada diri kita dan tertanam dalam konteks sekitar, yang memelihara pemikiran, memperkaya pemahaman, dan menetap dalam ingatan, baik melalui makna, emosi, maupun rasa ingin tahu.

Merancang dalam lingkungan terbangun yang sudah ada berarti menambahkan lapisan makna baru pada “halaman kosong” tersebut dan pada narasi sejarah yang terus berlanjut. Ini berarti menerima tantangan untuk berinteraksi dengan apa yang sudah ada: bentuknya, esensinya, sambil membuka kemungkinan serta potensi terpendam di dalamnya.

Tantangan ini semakin besar ketika klien dalam hal ini calon penghuni secara alami dan wajar menginginkan “yang terbaik dari dua dunia”: mempertahankan karakter dan pesona batu-batu putih yang telah lama usang pada hunian yang dipilih; menghadirkan nuansa modernitas, kenyamanan, dan kesejahteraan; serta membangun sebuah mikrokosmos domestik yang unik dan tak tergantikan. Sebuah transformasi ruang menjadi rumah sejati, menjadi rumahku.

Inilah, barangkali, kesulitan terbesar dari proyek ini. Dan tentu saja menjadi kegelisahan terbesar bagi para klien… karena hingga solusi akhir ditemukan, hingga mereka sepenuhnya merasa yakin dan menjadikannya milik mereka, keraguan terus menghantui, persisten dan tak kunjung reda.

Solusi akhirnya mempertahankan kualitas abadi dari struktur yang ada: dinding granit tebal, atap dengan bidang miring yang dilapisi genteng tradisional, bukaan dan kusen jendela yang direplikasi dengan hati-hati. Namun semua ini dipadukan dengan ruang-ruang yang dibayangkan ulang dan ditata kembali skalanya, membentuk lingkungan kontemporer yang terbuka secara jelas ke area luar privat terlihat, namun tetap terlindung dari pandangan publik. Hunian ini juga menghadirkan objek-objek terkurasi, momen hidup, dan solusi desain yang diyakini akan menjadikan bangunan ini tetap relevan sepanjang waktu.

Inilah tantangan sesungguhnya: merespons masa kini, menghormati masa lalu, dan mengantisipasi masa depan. Semua dalam satu struktur yang kuat secara konstruksi, indah secara estetika, efisien dalam fungsi, seimbang secara rasional, dan dalam secara emosional.

Pada akhirnya, yang tersisa adalah usaha untuk menyatukan semua elemen dalam dialog, kepuasan melihatnya hidup berdampingan dengan harmoni, dan harapan bahwa waktu akan membuktikan tujuan utama: kebahagiaan mereka yang akan tinggal di dalam dinding-dinding ini. Karena pada akhirnya, itulah tujuan sejati dari arsitektur.

See more images in the gallery below
Project name: Moradia do Retiro
Architecture Office: Ricardo Azevedo Arquitecto
Main Architect: Ricardo Azevedo
Location: Santo Tirso, Portugal
Year of conclusion: 2024
Total area: 627,65 m²
Architectural Photographer: Ivo Tavares Studio
Light Design, Visual identity, illustrations: Ricardo Azevedo Arquitecto
Interior Design: AAR Déco
Engineering, Acoustic Design, Fluids Engineering, Thermal Engineering: Fénix Engenharia Civil
