Dalam proyek Wuhan Banquet Jubilee Garden, LDH Design mengusung “Estetika Timur” sebagai konsep inti, menghadirkan kepekaan artistik ke dalam ruang makan serta memungkinkan budaya historis beresonansi dengan kehidupan kontemporer di dalam interior.
Wuhan, yang dikenal sebagai “Kota Sungai,” dicirikan oleh pertemuan dua sungai dan latar sejarah perpaduan budaya utara dan selatan. Melalui tata ruang, bahasa material, pengolahan cahaya dan bayangan, serta pengaturan sirkulasi, tim berupaya menghadirkan karakter kota yang beragam ini agar dapat dirasakan secara nyata di setiap sudut ruang.

Tatanan Ruang: Logika Aksial Tradisional Bertemu Pengalaman Interior Kontemporer
Proyek ini berlokasi di dalam bangunan bersejarah era konsesi yang memiliki struktur arsitektur yang kokoh. Dengan tetap menghormati struktur asli, Desainer berfokus pada peningkatan pengalaman spasial interior. Tata letak aksial simetris digunakan untuk menciptakan hierarki ruang yang jelas, di mana pergerakan melalui jalur sirkulasi, cahaya, pemandangan, dan fungsi membentuk perjalanan yang berkesinambungan.
Pintu dan jendela dirancang dengan komposisi persegi dan lingkaran, merefleksikan konsep filosofis “langit bulat dan bumi persegi.” Fasad dengan kilau metalik dan tipografi yang sederhana menghadirkan pintu masuk minimalis. Saat memasuki ruang yang megah namun elegan, tirai air bergaya bingkai batu menciptakan ritme melalui perpaduan diam dan gerak. Aliran air melembutkan kesan berat bangunan lama, sekaligus menghadirkan ritme khas “Kota Sungai” Wuhan sejak awal.Dialog antara ketenangan bata biru, dinamika air mengalir, dan kilau logam membentuk karakter spiritual arsitektur ini.

Area masuk, yang dipandu oleh tirai air berbingkai batu, menghadirkan suara aliran air dan permainan cahaya ke dalam interior. Pantulan air, tekstur bata biru, dan finishing metal menciptakan kontras, memungkinkan pengunjung merasakan denyut ritme sungai Wuhan sejak langkah pertama. Transisi dari luar ke dalam ini menekankan keseimbangan antara gerak dan diam, sehingga kekokohan bangunan justru memperkaya pengalaman ruang tanpa mendominasi.
Tata Letak Bergaya Courtyard: Interaksi Interior dan Eksterior
Tim desain menghadirkan konsep “courtyard” ke dalam interior melalui desain ruang berlapis. Kolam dangkal dan pohon jeruk membentuk lanskap yang dapat dilalui, sementara interaksi cahaya dan refleksi menciptakan suasana “ketenangan yang berdampingan dengan dinamika.”

Desain courtyard tidak hanya berfungsi sebagai panduan visual, tetapi juga sebagai strategi sirkulasi. Kombinasi air, pepohonan, cahaya, dan anak tangga batu menciptakan pengalaman bertahap dari halaman luar menuju ruang dalam. Pantulan cahaya pada air, dinding, dan material logam merepresentasikan kelembutan Sungai Yangtze sekaligus vitalitas budaya dermaga.
Zonasi Fungsional dan Sirkulasi
Ruang tiga lantai ini ditata sebagai berikut: Lantai dasar berfungsi sebagai area penerimaan publik yang terbuka, terang, serta menjadi aula utama. Lantai dua menghadirkan zona makan semi-privat yang dipisahkan oleh sekat dan kisi-kisi untuk menyeimbangkan privasi dan keterbukaan. Lantai teratas menampung ruang-ruang privat dan area jamuan, di mana material, pencahayaan, dan penataan furnitur memperkuat suasana yang tenang dan nyaman.

Dengan menggunakan tata letak simetris dan tangga melingkar, tim Desainer mengarahkan pengunjung dari halaman menuju aula utama, lalu berlanjut ke ruang-ruang privat—menciptakan perjalanan bertahap dari zona “luar ke tengah hingga ke dalam”. Proporsi ruang, tinggi plafon, lebar koridor, serta penempatan furnitur dikalibrasi secara cermat untuk memastikan garis pandang yang jelas, pencahayaan yang seimbang, dan pengalaman atmosfer yang mendalam di setiap titik perhentian.
Tangga melingkar mengarahkan alur visual, dengan anak tangga batu giok merah yang memperpanjang ritme pengalaman ruang. Sekat, bukaan jendela, dan pencahayaan berlapis bekerja secara selaras untuk menciptakan ritme spasial yang progresif, sekaligus memperkuat persepsi urutan ruang.

Materialitas dan Warna: Menerjemahkan Simbol Budaya
Palet material menampilkan batu giok merah, batu biru, logam bernuansa perunggu, dan kayu, yang didominasi oleh tiga warna utama: abu-abu asap, merah Tiongkok, dan emas perunggu. Setiap warna memiliki peran naratif:
· Abu-abu asap membangkitkan suasana senja di tepi sungai, memberikan ketenangan pada ruang.
· Merah Tiongkok melambangkan cahaya lampu dermaga, menghadirkan kehangatan.
· Emas perunggu mencerminkan tekstur sejarah dinding era konsesi, berdialog dengan detail logam kontemporer.
Elemen tradisional seperti bordir Han, warna opera Han, dan motif floral ditafsirkan ulang ke dalam bahasa ruang. Sekat bordir Han yang abstrak melembutkan batas pada ruang privat, sementara pola floral timbul pada dinding batu giok merah berubah secara halus mengikuti permainan cahaya.

Cahaya dan Lanskap Malam: Membentuk Suasana dan Atmosfer
Saat malam tiba, pencahayaan menjadi medium utama dalam membangun emosi. Sistem pencahayaan berlapis—yang menggabungkan lampu gantung, lampu linear, sumber cahaya tersembunyi, serta permukaan reflektif—memungkinkan cahaya mengalir melintasi batu giok merah, kayu eboni, dan bata biru, menciptakan pengalaman visual yang berkesinambungan sekaligus menenangkan.
Bukaan jendela tetap menerapkan teknik borrowed scenery, menghadirkan pemandangan tepi sungai ke dalam ruang. Bayangan bambu, pantulan air, dan cahaya buatan saling berkelindan, memungkinkan tamu merasakan hembusan angin sungai serta denyut kehidupan kota.

Permainan refleksi dan bayangan menambahkan kedalaman yang ritmis, mengubah setiap momen diam maupun pergerakan menjadi sebuah pengalaman emosional.
Praktik Interior dalam Regenerasi Budaya
Dalam proyek ini, Desainer mengubah tekstur sejarah menjadi pengalaman ruang yang nyata. Dengan cahaya, material, bayangan, dan suara sebagai medium, desain ini mendefinisikan ulang hubungan manusia dengan budaya.

Transisi dari terang ke gelap, dari terbuka ke intim, mencerminkan gaya hidup Wuhan yang dinamis namun tetap terkendali. Ruang ini menyentuh emosi bukan melalui kemewahan semata, melainkan melalui detail dan atmosfer—cahaya yang menembus celah bata, bayangan bambu yang bergerak, serta dinding merah yang berpendar.
Dengan desain interior sebagai inti narasi, konsep “regenerasi budaya” diwujudkan sebagai pengalaman sehari-hari yang nyata. Kedalaman sejarah tidak ditampilkan secara dangkal, melainkan dirasakan melalui material, cahaya, sirkulasi, pemandangan, dan detail.Lebih dari sekadar tempat makan, ruang ini adalah perjalanan emosional yang menghubungkan memori kota, semangat Timur, dan kehidupan kontemporer.

See more images in the gallery below
Project Name: Wuhan Banquet Jubilee Garden (Hankou Riverside Branch)
Location: Wuhan, China
Project Area: 1450 sqm
Design Company: LDH Design
Chief Designer: Liu Daohua
Lighting Design: Langlige Lighting
Completion Date: November 2024
Photographer: Wang Ting
