Antusiasme warga Jakarta dan komuter yang menggunakan MRT Jakarta terus mengalami peningkatan. Menurut PT MRT Jakarta (Perseroda), MRT Jakarta Fase 1 sudah mengangkut sekitar 46 hingga 47 juta penumpang per tahun, yaitu 46,5 juta orang pada tahun 2025 dan mencapai kisaran 47 juta penumpang dalam periode satu tahun operasional terakhir. Rata-rata layanan ini mencatatkan keterangkutan harian lebih dari 127 ribu hingga 137 ribu orang.
Untuk proyek MRT Jakarta Fase 2A yang sedang berlangsung, PT MRT Jakarta (Perseroda) berupaya melampaui target pekerjaan.
Proyek MRT Jakarta Fase 2A membentang sepanjang 5,8 kilometer dari Bundaran HI hingga Kota. Fase ini menghadirkan terowongan bawah tanah bertingkat pertama di Indonesia, stasiun terdalam, dan terintegrasi dengan cagar budaya.
Berikut adalah tonggak konstruksi dan tantangan rekayasa MRT Jakarta Fase 2A.
Terowongan Bertingkat Pertama di Indonesia

Dunia konstruksi Indonesia mencetak sejarah berhasil membangun terowongan bertingkat dan stasiun bertingkat pertama. Keberhasilan tersebut sebagai upaya untuk mengatasi keterbatasan lahan dan padatnya utilitas jalan raya di kawasan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, terowongan arah utara dan selatan dibuat bertumpuk secara vertikal (bertingkat). Desain bertingkat diterapkan antara Stasiun MRT Harmoni hingga Mangga Besar.
“Selain keterbatasan lahan dan padatnya utilitas jalan raya di kawasan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, kedua area ini juga dipisahkan oleh sungai Ciliwung. Untuk membangun terowongannya pekerja harus menunggu musim kering karena harus memasang sheet pile beton di dasar sungai. Kita menjadwalkan pekerjaanya saat air mulai surut,” —Weni Maulina, Construction Director of PT MRT Jakarta (Perseroda).
Bandingkan dengan terowongan MRT Jakarta Fase 1 dimana posisi jalur sejajar berdampingan untuk jalur arah utara dan selatan. Demikian pula letak peron yang berada pada satu level atau lantai yang sama di dalam stasiun.
Tantangan pembuatan Terowongan Bertingkat antara lain:
Proyek berada di Kawasan padat: Koridor Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk dipenuhi banyak bangunan serta utilitas bawah tanah yang padat, sehingga jalur kereta arah utara dan selatan tidak bisa dibuat sejajar.
Tanah lunak: Karakteristik tanah Jakarta di area tersebut bersifat lunak dan membutuhkan tingkat kedalaman ekstrem hingga 28 meter. Pengeboran terowongan MRT Jakarta menggunakan mesin bor raksasa (Tunnel Boring Machine).
“Ada banyak kendala yang kita hadapi selama pembangunan, namun minimal ada empat yang pokok, yaitu area jalan yang sempit, kondisi tanah lunak yang perlu diperbaiki dengan soil improvement, adanya utilitas pipa dan kabel, dan ditemukannya benda cagar budaya. Dan pekerjaan kita bisa melewati target,” — Tuhiyat, President Director of PT MRT Jakarta (Perseroda).
Stasiun Bawah Tanah Terdalam di Indonesia

Berlokasi di pusat kota yang padat, Stasiun Sawah Besar – Mangga Besar dibangun hingga kedalaman sekitar 28 meter di bawah permukaan tanah. Terowongan Stasiun Sawah Besar – Mangga Besar menjadi terowongan kereta bawah tanah terdalam di Indonesia yang dibangun bertumpuk. Sebuah milestone dalam konstruksi sipil di Indonesia.
“Setelah melewati Stasiun Harmoni menuju Stasiun Kota (arah Utara), nanti Ratangga yang semula berada di terowongan dua akan menuju ke terowongan empat yaitu terowongan Stasiun Sawah Besar – Mangga Besar dengan kedalaman 28 meter,” — Sonny Desta Primandani, Division Head of PMC 1 at MRT Jakarta (Perseroda).
Stasiun Harmoni
Jumlah lantai: 2
Panjang: 252 meter
Lebar: 17-18 meter
Kedalaman: 17 meter
Jumlah entrance: 7 (4 di trotoar, 3 terintegrasi halte Transjakarta)
Stasiun Sawah Besar
Jumlah lantai: 4
Panjang: 250 meter
Lebar: 17 meter
Kedalaman: 28 meter
Jumlah entrance: 5 (4 di trotoar, 1 terintegrasi halte Transjakarta)
Stasiun Mangga Besar
Jumlah lantai: 4
Panjang: 223 meter
Lebar: 19 meter
Kedalaman: 28 meter
Jumlah entrance: 5 (4 di trotoar, 1 terintegrasi halte Transjakarta)

Struktur stasiun empat lantai ini terdiri dari:
Lantai 1 – Beranda peron (concourse)
Lantai 2 – Peron arah selatan (Stasiun Lebak Bulus)
Lantai 3 – Level mekanikal (concourse/mechanical level)
Lantai 4 – Peron arah utara (Stasiun Kota)
Sebagai perbandingan di MRT Fase 1 stasiun terdalam ada pada Stasiun MRT Dukuh Atas dengan kedalaman 24 meter di bawah permukaan tanah.
Stasiun Termegah dan Terpanjang
Stasiun MRT Thamrin didapuk menjadi stasiun terpanjang MRT sekitar 455 meter yang memiliki 8 pintu masuk serta terintegrasi langsung dengan Stasiun MRT Dukuh Atas dan berbagai moda lainnya.

Panjang total stasiun MRT Thamrin mencapai 455 meter, dari area Hotel Sari Pacific hingga dekat kantor Kementerian ESDM. Seluruh stasiun berada di bawah tanah Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat dengan kedalaman mulai dari 17 meter hingga 36 meter di bawah tanah. Stasiun ini memiliki area 200 meter yang disiapkan sebagai area komersial.
Stasiun Thamrin akan Integrasikan Jalur Utara-Selatan dan Jalur Timur-Barat
Stasiun Thamrin akan menjadi stasiun yang mengintegrasikan koridor Utara-Selatan dan Timur-Barat. Sebagai pertemuan jalur, Stasiun Thamrin dilengkapi dengan banyak titik akses atau pintu masuk (entrance) serta menara ventilasi pendingin (cooling tower ventilation / CVT).
Progres pembangunannya telah mencapai tahap penyelesaian akhir (finishing) dan ditargetkan untuk mulai melayani publik pada tahun 2027.
Integrasi Antarmoda yang Masif
Stasiun MRT Harmoni akan dibangun raksasa setinggi dua lantai di bawah tanah dan terintegrasi langsung dengan halte Transjakarta layang (Bus Rapid Transit), yang memungkinkan pengguna berpindah moda dengan mudah.
Stasiun MRT Harmoni dibangun sepanjang 252 meter dengan 7 akses pintu masuk (Entrance) di Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk menuju stasiun bawah tanah di kedalaman 17 meter dari permukaan tanah (ground level).

Cagar budaya
Jalur konstruksi melewati area bangunan cagar budaya bersejarah di sekitar rute pusat kota yang wajib dijaga keamanannya agar tidak rusak.
Pekerja proyek MRT Jakarta menemukan cagar budaya berupa rel trem kuno peninggalan kolonial Belanda dari tahun 1869. Rel trem itu ditemukan pada Rabu (9/11/2022). Selanjutnya, tim arkeolog dari Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dan Universitas Indonesia secara bertahap akan mengekskavasi rel trem lebih kurang 100 meter tersebut kemudian dibawa ke tempat penyimpanan sementara milik Perum PPD di Jelambar, Jakarta Barat.
Desain Bernuansa Sejarah di Kota Tua
Khusus untuk paket Glodok hingga Kota, stasiun MRT dirancang dengan konsep ikonik “Dawara Batavia”. Stasiun ini akan dilengkapi underground gallery yang menyimpan artefak arkeologi.
Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A paket CP203 Glodok–Kota terus menunjukkan progres positif dengan capaian 86,03 persen per 22 Juli 2026. Bukan sekadar menghadirkan konektivitas baru, proyek ini juga dirancang untuk menghidupkan kembali identitas kawasan bersejarah Kota Tua melalui konsep ikonik “Dawara Batavia” atau “Gerbang Batavia.”
Target Operasional Bertahap
Jalur dari Bundaran HI hingga Monas ditargetkan selesai dan mulai beroperasi pada akhir tahun 2027.
Sedangkan jalur keseluruhan hingga Stasiun Kota ditargetkan beroperasi secara komersial pada akhir tahun 2029.
