Xingu House: Tiga Sayap Melayang Memanjang

Berada di tengah lanskap dramatis yang dibentuk oleh dataran alami, dinding batu, dan hutan yang tetap terjaga, Xingu House mengeksplorasi hubungan yang peka antara arsitektur dan tapak pegunungan. Ketimbang memaksakan bentuk yang kaku pada kontur lahan, rumah ini merespons kondisi lanskap melalui tiga sayap memanjang yang menjulur ke arah berbeda, membingkai pemandangan sekaligus mempertahankan karakter alami tapak. Terangkat dari permukaan tanah dan ditopang oleh pilar-pilar beton yang menyerupai pahatan, rumah ini menghadirkan komposisi arsitektur yang khas dan seolah melayang ringan di atas lanskap.

Area rekreasi dirancang sebagai ruang terbuka yang terintegrasi dengan kolam renang, bar, dan area bersantai.

Dirancang sebagai dialog berkelanjutan antara topografi, struktur, dan alam, Xingu House mengintegrasikan ruang-ruang hunian dengan lingkungan sekitarnya sekaligus mempertahankan identitas arsitektur yang kuat. Kamar-kamar utama yang berada di ketinggian, ruang keluarga yang terbuka, struktur beton ekspos, serta hutan yang dipertahankan menciptakan rangkaian ruang yang mempererat hubungan antara interior dan eksterior. Melalui pendekatan tersebut, proyek ini menunjukkan bagaimana arsitektur hunian kontemporer dapat merespons medan pegunungan yang menantang, sekaligus menjaga vegetasi, menghadirkan lanskap sebagai bagian dari pengalaman ruang, dan menciptakan pengalaman tinggal yang menyatu dengan alam.

Xingu house menghadirkan komposisi arsitektur yang khas dan seolah melayang ringan di atas lanskap.

Xingu House lahir dari pembacaan yang cermat terhadap tapak: sebuah medan yang terdiri atas teras-teras alami, dinding batu, dan area-area hutan yang tetap dipertahankan. Dari geografi yang tidak beraturan ini, proyek berupaya memahami bagaimana arsitektur dapat bertumpu pada kontur tanah, membuka diri terhadap lanskap, serta membangun hubungan yang berkesinambungan antara tubuh bangunan rumah dan pegunungan.

Massa bangunan terangkat dari permukaan tanah dan ditopang oleh pilar-pilar beton yang menyerupai pahatan.

Volume utama rumah bertumpu pada dinding batu lama, mengarah pada pemandangan dan melayang di atas permukaan tanah. Bentuknya terbagi menjadi tiga sektor, berupa tiga sayap yang memanjang ke arah berbeda, masing-masing merespons fragmen lanskap tertentu. Pada titik tertinggi—enam meter di atas permukaan alami tanah terdapat dua kamar utama yang dirancang sebagai titik pandang menerus ke arah pegunungan.

Xingu house dirancang sebagai dialog berkelanjutan antara topografi, struktur, dan alam.

Dua sayap lainnya berada di atas teras alami yang telah ada dan menampung ruang keluarga, kamar tidur tamu, ruang kerja, serta dapur. Ruang-ruang tertutup tersebut terbuka menghadap kontur bagian atas tapak, sehingga batas antara ruang dalam dan ruang luar menjadi semakin kabur.

Rumah ini menghadirkan lanskap sebagai bagian dari pengalaman ruang dan menciptakan pengalaman tinggal yang menyatu dengan alam.

Bentuk yang mengalir ini ditopang oleh enam kolom beton yang menyerupai patung. Kolom-kolom tersebut berukuran tebal, asimetris, dan nyaris monolitik. Alih-alih menyembunyikan struktur, proyek justru menjadikannya sebagai sebuah gestur arsitektural: kolom-kolom tersebut tampil sebagai elemen yang memiliki kehadiran kuat. Masing-masing mengakomodasi fungsi-fungsi penting—kamar mandi, tangga, dan lift sehingga bertransformasi menjadi ruang yang dapat dihuni. Rumah ini bertumpu secara ringan di atas pahatan beton tersebut, seolah hanya menyentuh tanah di titik-titik yang benar-benar diperlukan.

Bentuk rumah yang mengalir ini ditopang oleh enam kolom beton yang menyerupai patung.

Pada tingkat bawah, yang bersentuhan langsung dengan tanah, terdapat area rekreasi: ruang terbuka yang terintegrasi dengan kolam renang, bar, dan area bersantai. Pada tingkat ini pula terdapat galeri bawah tanah yang telah ada di dalam tapak, yang kemudian diintegrasikan ke dalam proyek dan diadaptasi menjadi ruang penyimpanan anggur. Elemen ini menghubungkan konstruksi baru dengan sisa-sisa bangunan dari penggunaan tapak sebelumnya.

Arsitek TETRO menghadirkan bagaimana arsitektur hunian kontemporer dapat merespons medan pegunungan yang menantang.

Terpisah dari tubuh utama rumah, di dalam hutan yang dipertahankan, terdapat spa. Sebuah volume mandiri yang berada di antara pepohonan tanpa menghilangkan vegetasi yang ada. Di dalamnya terdapat sauna, ruang-ruang untuk beristirahat, dan pusat kebugaran, membentuk ruang perenungan yang menyatu dengan lingkungan alami.

Rumah ini merespons kondisi lanskap melalui tiga sayap memanjang yang menjulur ke arah berbeda.

See more images in the gallery below

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Project Name: Xingu House / Casa Xingu
Firm: TETRO
Responsable Architects: Carlos Maia, Débora Mendes, and Igor Macedo
Location: Nova Lima, Minas Gerais, Brasil
Completion Year: 2025
Plot Area: 8.000m²
Total Built Area: 1.800m²

Photographer: Nelson Kon

Contributors: Guilherme Castro, Bianca Carvalho, Luisa Lage, Sabrina Freitas, Marcia Aline, Manuela Moss

READ MORE

error:
id_IDIndonesian